AMBON (info-ambon.com)-Menjelang Ramadan 2026, tekanan harga pangan di Provinsi Maluku mulai terasa. Dari 15 komoditas strategis yang dipantau pemerintah, sebanyak 11 komoditas masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Pemerintah (HAP).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Faradilla Attamimi, mengatakan Ramadan dan Idul Fitri menjadi periode paling rawan terhadap lonjakan konsumsi yang berpotensi memicu inflasi.
“Ramadan dan Idul Fitri paling besar dampaknya terhadap konsumsi. Karena itu kami analisis komoditas yang berpotensi naik,” ujar Faradilla di Ambon, Jumat (13/2/2026).
Berdasarkan analisis tren 2024 hingga awal 2025, sedikitnya 11 komoditas cenderung mengalami kenaikan harga dalam satu bulan sebelum Ramadan. Komoditas tersebut antara lain beras, sayur hijau, wortel, kacang panjang, buncis, mentimun, minyak goreng, hingga bensin.
Memasuki pekan pertama Februari 2026, harga beras dan bawang merah tercatat masih berada di atas rata-rata harga tiga tahun terakhir. Meski harga bawang merah mulai menunjukkan tren penurunan, posisinya belum kembali ke level normal.
Sementara itu, harga telur, cabai merah, dan cabai rawit relatif stabil.
Dari 15 komoditas yang diatur melalui HET dan HAP, hanya empat yang berada di bawah batas pemerintah, yakni beras medium, beras SPHP, beras medium non-SPHP, dan daging sapi. Selebihnya masih melampaui patokan resmi.
Kebutuhan beras masyarakat Maluku pada Februari diperkirakan mencapai 23.500 ton per bulan. Adapun kebutuhan minyak goreng sekitar 1.649 ton per bulan.
Pemerintah memprediksi konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idul Fitri meningkat 10–15 persen. Kenaikan ini mencakup kebutuhan rumah tangga, industri, hingga kegiatan pemerintahan.
Tanpa pengendalian distribusi yang ketat, lonjakan permintaan dikhawatirkan memperparah tekanan harga di pasar.
Berdasarkan neraca pangan daerah, stok beras, daging sapi, telur, bawang, dan minyak goreng relatif aman hingga dua bulan setelah Ramadan. Namun, stok cabai merah dan cabai rawit berada di bawah batas aman.
Pemerintah menyebut kondisi tersebut dipengaruhi sifat cabai yang mudah rusak dan memiliki perputaran stok yang singkat.
Untuk mengawasi pergerakan harga dan distribusi, Badan Pangan Nasional membentuk satuan tugas pengendalian harga dan keamanan pangan. Di Maluku, satgas tersebut melibatkan unsur kepolisian dan sejumlah dinas teknis.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Maluku merencanakan tujuh kali pasar murah di Kota Ambon hingga menjelang Idul Fitri.
Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan. Namun, mayoritas komoditas strategis masih dijual di atas batas resmi, sementara Ramadan kian dekat dan harga pangan belum sepenuhnya bersahabat dengan daya beli masyarakat. (EVA)








Discussion about this post