AMBON (info-ambon.com)- Anggota Komisi I DPRD Maluku, Wahid Laitupa, menyoroti sejumlah kendala dalam pengelolaan lahan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), khususnya pada tahap pengukuran di lapangan.
Sorotan tersebut disampaikan saat Komisi I DPRD Maluku melakukan pengawasan tahap II di wilayah tersebut pada Sabtu (2/5/2026) lalu.
Wahid menilai, sejak awal penetapan ibu kota Kabupaten SBB, pemerintah daerah seharusnya telah memastikan kelengkapan dokumen hibah lahan. Kejelasan dokumen, menurut dia, penting untuk mencegah potensi persoalan hukum di kemudian hari.
“Seharusnya sejak awal semua dokumen hibah sudah tuntas, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” kata Wahid kepada wartawan di Kantor DPRD Maluku, Selasa (5/5/2026).
Ia juga menyinggung adanya klaim lahan oleh pihak keluarga tertentu yang kerap memicu polemik di tengah masyarakat. Meski demikian, Wahid menegaskan bahwa selama belum ada gugatan resmi terhadap pemerintah daerah, lahan tersebut masih dianggap sebagai milik pemda.
Menurut dia, ke depan kejelasan status hibah lahan harus menjadi perhatian serius, terutama dalam mendukung pembangunan fasilitas publik, termasuk sektor pendidikan.
“Jangan sampai pembangunan fasilitas pendidikan justru terganggu karena persoalan lahan yang belum jelas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Maluku di SBB, Novi Lessil, menyatakan bahwa secara umum tidak terdapat masalah serius terkait status lahan. Namun, ia mengakui proses sertifikasi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi biaya operasional.
Novi menjelaskan, biaya transportasi menuju wilayah kepulauan bagi tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) dapat mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta per perjalanan.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa persoalan lahan SMA 31 SBB masih dalam proses penyelesaian. Jika hingga Juli 2026 belum rampung, sekolah tersebut akan dikembalikan ke SMA Negeri 2 SBB di Waisamu, sesuai arahan Dinas Pendidikan Provinsi Maluku.
“Jika belum selesai sampai batas waktu yang ditentukan, maka akan dikembalikan ke sekolah induk,” kata Novi. (EVA)








Discussion about this post