AMBON (info-ambon.com)- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan digital masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih memahami risiko investasi pada aset digital dan kripto secara aman, rasional, dan bertanggung jawab.
Hal itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) di Aula Rektorat Universitas Pattimura, Ambon, Senin.
“Perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai, karena masih banyak masyarakat yang terjebak investasi ilegal, penipuan digital, maupun kehilangan aset akibat rendahnya kesadaran terhadap keamanan digital,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, pesatnya perkembangan sektor keuangan digital turut diiringi berbagai risiko, mulai dari fluktuasi harga yang ekstrem, risiko keamanan digital, ketidakpastian regulasi, hingga potensi penipuan dan faktor psikologis.
Menurut Adi, karakteristik aset kripto yang high risk high return serta volatilitas tinggi menuntut masyarakat untuk tidak hanya mengikuti tren atau potensi keuntungan semata, tetapi juga memahami fundamental dan mekanisme kerja aset tersebut sebelum berinvestasi.
Lebih lanjut, Adi mengungkapkan bahwa perkembangan aset kripto di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen aset kripto telah mencapai lebih dari 21 juta pengguna.
Sementara itu, sepanjang 2025, nilai transaksi perdagangan aset kripto tercatat mencapai Rp482,23 triliun.
Adi juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen literasi digital untuk mengedukasi masyarakat, khususnya dalam memahami investasi aset digital guna menekan risiko kerugian dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap inovasi keuangan.
Pemilihan Kota Ambon sebagai lokasi kegiatan DFL yang merupakan rangkaian Bulan Literasi Kripto (BLK) bertujuan untuk mendorong pemerataan literasi keuangan digital di kawasan timur Indonesia.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, Provinsi Maluku masih memiliki kesenjangan cukup besar antara indeks inklusi keuangan sebesar 81,04 persen dan indeks literasi keuangan sebesar 40,78 persen.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai, edukasi keuangan digital sangat penting bagi mahasiswa di tengah pesatnya perubahan sektor keuangan.
“Perubahan di sektor keuangan saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan melampaui kecepatan perkembangan regulasi. Oleh karena itu, edukasi kepada generasi muda menjadi sangat penting agar mereka tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat dalam mengambil keputusan keuangan secara bijak,” kata Fredy.
Kuliah umum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto, Chief Financial Officer Indonesia Crypto Exchange (ICEX) Rizky Indraprasto, Legal, Compliance & Government Relations PT Kripto Maksima Koin Eveline Shinta, serta Head of Marketing PT Multikripto Exchange Indonesia Vincent.
Kegiatan yang diikuti sekitar 400 mahasiswa dan sivitas akademika ini juga dihadiri sejumlah pejabat OJK, termasuk Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady.
Melalui kegiatan DFL, OJK memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia guna meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan digital, sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang cerdas secara finansial dan aman dalam berinvestasi.







Discussion about this post