Pemkot Gelar Webinar Hoax COVID-19; Antara Pendemik dan Infodemik

Webinar tentang COVID-19 yang diselenggarakan Pemkot Ambon.-EVA-

AMBON (info-ambon.com)-Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon menggelar webinar dengan tema “hoax COVID-19 antara pandemic dan infodemik” yang dilaksanakan secara virtual dengan menghadirkan guru Besar Fisip Universitas Erlangga dan staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bagian Hukum, Prof. Dr.Hendri Subiakto, webinar dibuka lansung Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, Rabu (30/9/2020).

Louhenapessy dalam sambutannya menyampaikan, hingga saat ini masih terjadi disparitas perbedaan pendapat antara pribadi-pribadi, kelompok, institusi dan lembaga terkait dengan COVID-19.

Ia mengajak kepada seluruh warga kota untuk tetap belajar dari pandemi Flu Spanyol yang melanda dunia tahun 1918. Pandemi itu menyebabkan ratusan juta orang terinfeksi dan terdampak sebanyak 50 juta orang.

“Peristiwa seperti ini pernah terjadi tahun 1918. Namanya Flu Spanyol. Kurang lebih 500 juta orang terinfeksi, antara 50 – 100 juta orang meninggal. Karena pada saat Pemerintah mengambil kebijakan mengambil kebijakan lockdown atau PSBB tetapi masyarakat yang tidak taat, namun mereka juga disiplin tinggal di rumah, tetapi hasrat untuk keluar rumah sangat besar, pada saat kebijakan lockdown itu dibuka lagi banyak orang yang menunjukan eforianya dampak dari kebahagiaan yang berlebihan, kemudian jadilah kematian dan malapeta itu,”katanya.

Dikatakan, yang menjadi pertanyaan, apakah kita mau belajar dari flu spanyol atau mengulang lagi pada tahun 2020. Flu Spanyol mewabah di seantero dunia pada tahun 1918 Tingginya angka kematian yang disebabkan oleh perilaku masyarakat yang tak lagi mematuhi aturan kesehatan akibat dilanda kejenuhan.

“Kenapa banyak meninggal, karena pada saat orang jenuh dan tidak taat lagi pada protokol kesehatan, tak mau lagi dikarantina. Jadi ini yang harus kita hati-hati, jangan sampai tidak disiplin berdampak buruk bagi masyarakat luas,”tegasnya.

Walikota mengucap terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan kearsipan yang telah menfasilitasi webinar dan mendapat narasumber yang sangat-sangat representative  dari Universitas Airlangga Surabaya juga adalah Kementerian kominfo.
“Kita persis sampai dengan hari ini masih aja terjadi perbedaan pendapat, di mana-mana saya katakan pada pertemuan dengan kelompok masyarakat dan mereka menyampaikan kepada saya, coba Pak Walikota buktikan bahwa sementara terjadinya COVID-19, apakah benar nggak, apakah pemerintah ini hanya sengaja menggulirkan COVID-19 sebagai opini supaya pemerintah bisa memanfaatkan dana, memang secara fisik tidak bisa melihat virus ini, dan saya bukan seorang ahli epidemologi untuk bisa menjelaskannya secara detail,”tandasnya.

Sementara itu, Guru Besar Fisip Universitas Erlangga dan staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bagian Hukum, Prof. Dr.Hendri Subiakto mengatakan, seperti disampaikan Pak Walikota Ambon dalam sambutannya bahwa kita harua belajar dari pandemi Flu Spanyol yang melanda dunia tahun 1918. Pandemi itu menyebabkan ratusan juta orang terinfeksi dan sedikitnya 50 juta orang kehilangan nyawa.

“COVID-19 dimana virusnya menyebar begitu cepat dan korbannya juga sangat besar pada hari ini, korban di dunia yang meninggal sudah melampaui 1 juta,  artinya jangan main-main dengan virus ini, karena di semua negara sebenarnya memang kesulitan tidak punya pengalaman menghadapi pandemi yang begitu dahsyat, bahkan Amerika pun menjadi negara nomor satu di dunia yang korbannya terbesar, padahal Amerika yang negara yang sangat maju, modern kemudian teknologinya kedokterannya juga maju, “katanya.

Untuk itu, mengacu dari pandemi itu, kita kesulitan menghadapinya, untuk itu mari kita melakukan apa yang disebut sebagai learning, mempelajari atau hati-hati.
“Kita tetap hati-hati, karena bukan Indonesia yang mengalami pandemi, tetapi seluruh dunia, persoalan pandemi COVID-19, karena ada gelombang ancaman kesehatan yang sangat menakutkan, ada gelombang ancaman ekonomi, karena ketika kita tidak keluar dan tidak pergi kemana-mana, maka yang terkena imbasnya adalah ekonomi,”jelas Subiakto.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah dihadapkan dengan sebuah krisis kesehatan dan krisis ekonomi, tetapi pemerintahnya sendiri, tidak bisa mengumpulkan kekuatannya, karena kantor-kantor tutup.

“Dengan adanya pandemi pemerintah mengetatkan semua aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi, tapi apa yang terjadi ekonomi tidak langsung anjlok, tahun ini anjlok 5,3 persen, banyak karyawan yang PHK, pengangguran mengalami peningkatan tajam, banyak orang yang akan kesulitan mencari nafkah bahkan kesulitan mendapatkan makanan, jika pemerintah kemudian membuka kran produktivitas, kantor dan masyarakat pulih kemudian kembali bekerja, tetapi apakah dalam bekerja bisakah menjalankan protokol kesehatan,”terang dia.

Sama seperti sekolah-sekolah masih banyak yang belum bisa dibuka, ada Gereja ada Masjid yang juga belum dibuka, sementara kenapa pasar dibuka, toko dibuka, bank dibuka tetapi yang lain tidak, bisa melakukan analisa dari sektor-sektor tertentu.
“Memang ada sektor-sektor kehidupan yang akan dibuka resiko penularannya tinggi, misalnya pendidikan SD, SMP, SMA kalau dibuka resiko penularan ke anak-anak itu tinggi,” tandas guru besar Fisip Universitas Erlangga itu.

Pada kesempatan itu, dia juga memberikan kunci sukses dalam menghadapi COVID-19 yakni, masyarakat tahu bahayanya, bagaimana cara menghindarinya, masyarakat harus benar-benar patuh terhadap protokol kesehatan, dan masyarakat tidak boleh percaya hoax, teori, dan konpirasi.(EVA)

Exit mobile version