Konselor Remaja Dilatih untuk Konseling Remaja di Ambon

Pelatihan konselor yang dilakukan Pemkot Ambon untuk kalangan remaja.-EVA-

AMBON (info-ambon.com)-Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon menggelar pelatihan konselor Pusat Informasi dan Konselor  Remaja (PIK-R) yang dilaksanakan oleh, di Marina Hotel, Kamis (29/8/2019).

Dalam sambutan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, yang dibacakan oleh Asisten III Pemkot Romeo Soplanit mengatakan, generasi milenial merupakan generasi yang sangat melek dalam teknologi, sehingga mereka lebih depan dengan generasi sebelumnya, sebab mereka memiliki kemampuan teknologi yang cukup baik, walaupun melekat dengan teknologi, generasi milenial cenderung tidak peduli dengan keadaan sosial, termasuk budaya, ekonomi dan lainnya.

“Dari beberapa statistik yang ada, dikatakan bahwa generasi milenial lebih cenderung tidak peduli dalam keadaan sosial, termasuk budaya ekonomi.  Mereka cenderung fokus pada sekolah hidup bebas, menginginkan hal-hal yang instan yang tidak menghargai suatu proses kehidupan yang tengah terjadi. Salah satu faktor itu terjadi disebabkan karena penggunaan media sosial yang salah, maka dari itu sangat membutuhkan perhatian khusus,”ujarnya.

Dikatakan, generasi muda saat ini justru banyak berpengaruh terhadap pergaulan-pergaulan yang merubah perilaku kehidupan mereka. Padahal ilmu yang diberikan disekolah untuk mendorong mereka agar bisa menjadi generasi yang cerdas, bermartabat dan memajukan bangsa.

“Untuk solusi merubah pikiran generas milenial adalah dengan membangun dan menata kembali karakter dan watak generasi, yang berwawasan pancasila, berbhineka tunggalika sehingga yang diharapkan kedepan adalah remaja yang terintegrasi, nasionalis, berkualitas dan bermartabat,”jelasnya.

Dari itu, lanjutnya sudah selayaknya remaja di era milenial memiliki peran penting untuk mendukung berbagai program pemerintah, sebab mereka memberikan adil yang besar, terutama dalam mengembangkan program KB.

Ada pun masalah yang selalu dihadapi oleh generasi muda diantaranya, meningkatnya perkawinan usia dini, tidak berperilaku sehat, dekat dengan seks bebas dan HIV.

“Yang menjadi masalah utama adalah pendewasaan usia perkawinan, yang jadi usia kurang 18 tahun masih tergolong anak-anak, untuk itu BKKBN memberikan batasan pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, sehingga pemkot telah mengembangkan prorgam reproduksi remaja sekaligus membentuk wadah kegiatan tersebut dengan prinsip pengelolaan dan oleh untuk remaja di berinama pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja. Dan para remaja harus bisa mengisi kegiatan-kegiatannya dengan kegiatan yang positif dan berguna untuk kehidupannya,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Ambon, Welly Patty mengatakan, mereka melakukan kegiiatan tersebut karena mengingat para remaja saat ini sangat suka dengan internet.

Jika dilihat remaja pada dasarnya mereka itu suka curhat, suka berkomunikasi dengan teman sebaya mereka, entah masalah-masalah pribadi masalah yang paling prinsip itu menyangkut hubungan pertemanan, hubungan pacaran, masalah masalah remaja, mereka itu takut melakukan komunikasi atau curhat dengan orang tua mereka, mereka selalu curhat dengan teman sebaya.

Dan untuk itu, lanjutnya mereka mengambil ini sebagai hal yang baik dan positif dimana remaja perlu dilatih untuk konselor bagi teman sebaya mereka.

“Kalau mereka sudah dilatih berarti mereka bisa menjadi teman yang baik bagi teman sebaya,’’ jelansya.

Pelatihan yang dilakukan ini seputar HIV-AIDS, Narkoba kemudian perkawinan dini dan seks bebas. Hal ini akan disampaikan dalam materi dan bagaimana juga konselor itu dia bisa membuka diri untuk menerima semua curhat remaja supaya ketika mereka menjadi konselor itu hal positif yang baik itu mereka sampikan kepada remaja yang memang membutuhkan perhatian, infomasi tentang masalah remaja itu.(EVA)

Exit mobile version