Dinsos sudah Punya Skenario Penutupan Lokalisasi Prostitusi Offline ‘Tanjung Batumerah’

ilustrasi.-web-

AMBON(info-ambon.com)-Dinas Sosial (Dinsos) Kota Ambon sudah punya skenario jika lokalisasi prostitusi offline ‘Tanjung Batumerah’ di Negeri Batumerah, Kecamatan Sirimau, ditutup permanen.

Kepada info-ambon.com, Senin (13/5/2019) Kepala Dinsos, Nurhayati Yasin menjelaskan, skenario dinas terkait penutupan lokalisasi sudah ada, dan sudah menjadi acuan di seluruh Indonesia.

Dia sebutkan, memang dari sejak lama, Kementrian Sosial sudah meminta agar Dinsos Kota Ambon segera melakukan penutupan terhadap lokalisasi prostitusi tanjung Batumerah, namun sepanjang ini pula, ada saja kendala yang dihadapi dinas, ketika hendak mengimplementasinya.

‘’Kalau sekarang Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta penutupan dan didukung oleh aparat Kepolisian Resort Pulau Ambon dan Pp Lease dan juga Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, maka Dinsos siap penuh mendukungnya,’’ kata Yasin.

Disebutkan, beberapa skenario yang sudah berjalan dan berhasil diterapkan di beberapa daerah yang sudah melaksanakannya, yakni dengan melakukan sosialisasi dan pembekalan kepada para wanita yang ada disana.

‘’Kita bisa saja melakukan pelatihan-pelatihan sesuai kemampuan dan keahlian mereka, sehingga ketika tidak lagi berada di lokalisasi, mereka bisa mandiri. Selain itu, bisa juga ada modal usaha yang diberikan sebagai bekal untuk mereka di kemudian hari,’’ tuturnya.

Disampaikan, skenario dan pola ini ternyata sudah berhasil di beberapa daerah yang lokalisasinya ditutup permanen. ‘’Kita akan adopsi semua itu untuk diberlakukan di Ambon,’’ tegasnya.

Diakui, pihaknya memang sejak lama melakukan sosialisasi penutupan tersebut, namun selalu mendapat kendala, ketika bertemu dengan pemilik-pemilik losmen yang mempekerjakan pramuria-pramuria disana. ‘’Mereka setuju penutupan, namun Pemkot harus bersedia membayar ganti untung atas biaya yang mereka keluarkan untuk renovasi wisma atau losmennya,’’ kata Yasin.

Saat ini, pihaknya mencatat, sedikitnya 160 pramuria yang bermukim di Tanjung Batumerah dengan menempati sedikitnya sekitar 20 wisma yang ada disana. Rentang usia, katanya juga bervariasi, mulai dari belasan tahun, hingga yang tua berusia 54 tahun, bahkan sudah ada yang berkeluarga dengan warga sekitar.

Pemerintah Negeri Batumerah, menyatakan juga dukungannya atas penutupan salah satu lokalisasi tertua di Indonesia tersebut.

Menurut pejabat Pemerintah Negeri Batumerah, Fenly Masawoy, keberadaan lokalisasi prostitusi offline tersebut, membuat nama negeri Batumerah sedikit ‘minor’ dikalangan masyarakat luas. Sebab lanjutnya, kebanyakan orang pas mendengar Batumerah, maka alam pikirnya langsung ke lokalisasi.

‘’Kalau itu memang sudah menjadi kesepakatan umat dan didukung pemerintah dan aparat kepolisian, maka Pemneg Batumerah siap mendukungnya,’’ demikian Masawoy.(PJ)

Exit mobile version