AMBON (info-ambon.com)-Aliansi Mahasiswa Pulau Buru menggelar aksi unjuk rasa damai di Gedung DPRD Provinsi Maluku, Selasa (19/5/2026), untuk menyuarakan kekecewaan terhadap sikap anggota DPRD Maluku asal daerah pemilihan Kabupaten Buru dan Buru Selatan terkait polemik aktivitas pertambangan di kawasan Gunung Botak.
Koordinator Lapangan II aksi, Arton Nurlette, menilai para wakil rakyat asal Pulau Buru harus lebih serius menyikapi persoalan tambang yang hingga kini masih memicu gejolak di masyarakat.
“Ridwan Nurdin dan Akmal Solissa sebagai DPRD Provinsi Maluku dari Dapil Buru dan Buru Selatan harus melihat persoalan ini secara jeli. Gunung Botak hari ini merupakan jantung perekonomian masyarakat Pulau Buru,” ujar Arton saat menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Maluku.
Menurut dia, persoalan Gunung Botak tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertambangan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat yang menggantungkan ekonomi di kawasan tersebut.
Karena itu, mahasiswa meminta para anggota DPRD hadir dan menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat Pulau Buru.
Arton juga menyinggung posisi Akmal Solissa yang merupakan anak dari mantan Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa. Ia berharap wakil rakyat dari Pulau Buru dan Buru Selatan dapat menunjukkan komitmen nyata dalam mengawal persoalan Gunung Botak.
“Mereka selama ini berbicara soal pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Pulau Buru. Karena itu kami berharap mereka juga hadir dan serius mengawal persoalan Gunung Botak,” katanya.
Selain menyoroti DPRD, massa aksi juga melayangkan kritik kepada Pemerintah Provinsi Maluku. Mereka mengaku kecewa karena Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku dinilai tidak memberikan respons langsung terhadap aksi-aksi mahasiswa terkait Gunung Botak.
Arton mengatakan, sebelumnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) juga telah menggelar aksi serupa pada 18 Mei 2026, namun tidak ditemui oleh pimpinan daerah.
“Kami sangat kecewa terhadap Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku. Setelah beberapa aksi dilakukan, mulai dari GMKI hingga gerakan hari ini, tidak ada respons langsung dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan aksi mahasiswa terkait persoalan Gunung Botak akan terus dilakukan hingga tuntutan mereka mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun DPRD Provinsi Maluku.
“Aksi kami hari ini akan berlanjut untuk menyuarakan persoalan Gunung Botak,” katanya. (EVA)








Discussion about this post