Banjir Rob di Ambon Disebabkan Faktor Angin dan Siklus Pasang Surut

Banjir rob yang melanda salah satu wilayah kelurahan di Kota Ambon.-dok-

AMBON(info-ambon.com)– Pekan lalu, warga Ambon khususnya yang tinggal di wilayah pesisir pantai, dikejutkan dengan naiknya air laut ke pemukiman mereka.

Fenomena banjir Rob atau Banjir air laut atau naiknya permukaan air laut yang menimpa wilayah pesisir Kota Ambon selama beberapa hari belakangan menurut Kepala Stasiun (Kepsta) Meteorologi Maritim Kota Ambon, Ashar disebabkan oleh adanya pusaran angin diperairan utara Australia dengan tekanan yang rendah yang menyebabkan peningkatan ketinggian gelombang laut di daerah laut Banda.

Lewat analisis Banjir Rob yang dikeluarkan BMKG Kota Ambon yang diterima info-ambon.com, pecan lalu, fenomena yang dicurigai karena banyaknya proses pengeringan di pesisir Ambon, ternyata murni factor alam.

“Berdasarkan analisis meterologi, ada beberapa indikator yang menyebabkan terjadinya banjir Rob di beberapa wilayah pesisir di Kota Ambon. Antara lain, Pola Angin diwilayah selatan Indonesia yang secara dominan bertiup dari arah barat daya menuju barat laut dengan kecepatan berkisar antara 5 sampai 35 knot. Adanya pusaran angin dibagian utara Australia dengan tekanan yang lebih rendah yang menyebabkan meningkatnya kecepatan angin secara signifikan yang kemudian meningkatkan ketinggian gelombang di Laut Banda dan perairan lain di Maluku. Dari laut Banda itu, gelombang kemudian menjalar ke wilayah perairan buru dan pulau Ambon,” katanya.

Indikator berikutnya, Gelombang signifikan dimana berdasarkan gambar analisa gelombang wilayah perairan kepulauan Ambon pada tanggal 5 februari berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter.

Indikator lainnya, lanjut Kepsta, adalah faktor angin permukaan, dimana untuk angin permukaan wilayah Ambon, umumnya bertiup dari arah barat daya ke barat laut dengan kecepatan berkisar antara 3 sampai 10 knot.

“Yang terakhir adalah indikator tinggi pasang surut, dimana berdasarkan analisa ketinggian air laut akan meningkat pada pukul 16.00 WIT dengan ketinggian yang teramati 2 meter dan akan mencapai ketinggian maksimum permukaan laut 2,83 meter pada pukul 20.00 WIT,” jelasnya.

Dikatakannya, siklus pasang surut dipengaruhi oleh siklus bulan. Saat ini, bulan dalam fase bulan sabit menuju bulan baru, dimana setiap fase bulan baru akan mengakibatkan periode fase pasang surut maksimum.

Lagi menurut Kepsta, potensi banjir rob masih akan terjadi hingga satu minggu kedepan mengingat gelombang di wilayah Ambon tergolong dalam kategori sedang dengan tinggi 1,25 – 2,50 meter.

“Dan siklus pasang surut diperkirakan terjadi mengalami puncak pada fase bulan baru yakni pada tanggal 11 atau 12 Februari 2021. Adanya gelombang dengan kategori sedang dan siklus pasang surut tersebut akan menjadikan potensi terjadinya banjir rob di pesisir teluk Ambon,” demikian Kepsta.

Karena itu, bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas diwilayah pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi dimohon agar senantiasa berhati-hati dan waspada, serta untuk diperhatikan bagi resiko tinggi keselamatan pelayaran, yakni perahu nelayan, kapal tongkang, kapal ferry, dan kapal berukuran besar seperti kapal kargo dan kapal pesiar.  (MCA/PJ)

Exit mobile version