AMBON (info-ambon.com)- Keluarga pasien Selina Patty mengeluhkan pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Siloam Ambon yang dinilai lamban dalam memberikan penanganan medis terhadap pasien yang datang dalam kondisi sakit dan membutuhkan perawatan segera. Kejadian pada, Selasa (2/6/2026).
Menurut keterangan keluarga, pasien dibawa ke IGD RS Siloam Ambon untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, setibanya di rumah sakit pada pukul 10.28 WIT, keluarga mengaku harus menunggu cukup lama sebelum pasien mendapatkan tindakan dari tenaga medis pada pukul 12.00 WIB.
“Kami pikir mama akan langsung ditangani karena kondisinya sudah sakit. Tetapi setelah datang, kami hanya diminta menunggu,” ujar salah satu anggota keluarga.
Keluarga mengaku sempat berulang kali menanyakan perkembangan penanganan kepada petugas jaga. Namun, menurut mereka, perawat menyampaikan bahwa tindakan medis harus menunggu arahan dokter terlebih dahulu.
Meski keluarga telah meminta agar pasien segera ditangani karena kondisi yang dianggap semakin memburuk, tindakan medis disebut baru diberikan beberapa jam kemudian berupa pemasangan infus.
Tak hanya itu, keluarga juga mengaku kecewa karena permintaan untuk merawat pasien secara inap tidak dapat dipenuhi. Pihak rumah sakit, menurut keluarga, menyampaikan bahwa ruang perawatan kelas III sedang penuh.
“Kami sudah bilang pasien bukan masuk menggunakan BPJS Kesehatan, tetapi sebagai pasien umum. Namun tetap disampaikan bahwa kamar penuh dan pasien diminta dirujuk ke rumah sakit lain,” kata keluarga.
Keluarga juga mempertanyakan alasan rumah sakit tidak dapat menerima pasien untuk rawat inap. Mereka menduga masih terdapat ruangan yang dapat digunakan, meski pihak rumah sakit menyatakan kapasitas kamar telah penuh.
Situasi semakin membuat keluarga kecewa ketika pasien disebut diminta keluar dari area IGD karena ada pasien lain yang akan masuk. Akibatnya, pasien akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon (GPM) untuk mendapatkan pelayanan lanjutan.
Try Agnes, salah satu anggota keluarga pasien, menilai rumah sakit seharusnya mengutamakan keselamatan pasien dan memberikan pelayanan maksimal tanpa membedakan status pembiayaan.
Ia mengaku mendapati pasien telah berada di luar ruang IGD saat tiba di rumah sakit. Menurutnya, pasien hanya diberikan infus tanpa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah.
“Rumah sakit punya tugas untuk menangani pasien. Perawat dan dokter memiliki tanggung jawab profesi untuk menolong orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Try Agnes juga mempertanyakan koordinasi antara petugas IGD dan dokter yang menangani pasien. Ia mengaku justru pihak keluarga yang menghubungi dokter untuk menginformasikan kondisi pasien.
Menurut pengakuannya, dokter yang dihubungi mengaku belum menerima informasi dari pihak IGD terkait kondisi pasien tersebut.
Peristiwa ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi keluarga pasien. Mereka berharap manajemen rumah sakit memberikan penjelasan terkait prosedur pelayanan yang diterapkan serta melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Hingga berita ini ditulis, pihak RS Siloam Ambon belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan keluarga pasien. (EVA)








Discussion about this post